Peringatan Isra dan Mi’raj : Kepala BNN Kab. Donggala beserta Staf

Kepala BNNK Donggala (Kahar Muzakkir, SH.) beserta staf memperingati Isra dan Mi’raj  di knator BNN Kab. Donggala dengan Narasumber Ustd.  Nursandi; Isra dan mi’raj merupakan peristiwa maha ghaib yang menuntut umat manusia, bukan hanya umat Islam, untuk mengimaninya. Sebagaimana kita tau, Isra dan mi’raj merupakan fenomena ilahiyah (atau sebuah kenyataan yang sengaja tuhan ciptakan) yang telah muncul sejak masa awal kelahiran Islam itu sendiri, di tengah masyarakat yang memiliki gaya berpikir sangat primitif dan sederhana, belum mampu menemukan discovery atau penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sepeti zaman sekarang ini. Sehingga sangat sulit bagi seseorang di zaman itu untuk percaya terhadap peristiwa Isra dan mi’raj ini. (tandas ustd Nursandi.

Isra dan mi’raj adalah mu’jizat ilahiyah yang memang tidak mesti terjangkau oleh akal manusia. Akal manusia sangatlah terbatas untuk bisa menelusuri eksistensi Isra dan miraj itu sendiri, karena Isra dan miraj adalah termasuk urusan ghaib yang tidak bisa dicapai oleh sesuatu yang bersifat inderawi (Al hawas). Dalam hal inderawi ini akal hanya diperintahkan untuk meyakini dan tunduk kepada apa saja yang difirmankan oleh Allah swt, dan disabdakan oleh nabi Muhammad saw. Di sinilah kita bisa membuktikan kelemahan akal manusia. Dari mana kita coba buktikan? Contoh…, kalau kita berandai untuk membawa akal kita kembali ke zaman dahulu, ke zaman dimana belum ditemukan saintis, tekhnologi, dan ilmu‑ilmu pengetahuan modern seperti zaman sekarang ini. Di zaman kolot yang kalo kata anak sekarang, “zaman kuda masih gigit besi”.
Kalau pada waktu itu ada orang yang bercerita tentang radio, televisi, komputer, internet. Adanya listrik yang sekali sentuh bisa terang, sekali sentuh bisa gelap dengan seketika. Pastilah ia dibilang tukang sihir. Kemudian bercerita pula tentang seseorang yang mampu menjelajah angkasa raya, bahkan sampai mendarat di bulan dan sebagainya. Maka dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi terhadap seseorang yang bercerita seperti ini. Tidak pelak lagi, dia pasti akan dituduh sebagai seorang pengkhayal, seorang yang aneh, bahkan dianggap gila. Hal‑hal semacam ini, meskipun masih termasuk ke dalam ruang lingkup alam dunia yang bersifat inderawi, tapi kita teramat yakin, pada saat itu akal manusia tidak akan mampu menerimanya. Apalagi dengan hal‑hal yang berbau alam ghaib? Tentunya akal lebih sulit untuk menganalogikan dan menerimanya, kecuali hanya dengan satu hal, “iman!”, bagi orang-orang yang hatinya bersih.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj termasuk peristiwa sejarah yang sangat banyak mendapat perhatian dan perbincangan para ilmuwan sosial. Diantara ahli sejarah, ada yang sangat berlebihan dalam memandang kedudukan nabi Muhammad berikut mu’jizatnya, ada pula sebaliknya, mengingkari sama sekali keberadaan mujizat dalam perjalanan sejarah hidup seorang nabi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *